Parenting

Mengatasi Anak Tantrum: Penyebab, Cara Menenangkan, dan Panduan Parenting untuk Anak Usia Dini

Ninik Ambarwati
×

Mengatasi Anak Tantrum: Penyebab, Cara Menenangkan, dan Panduan Parenting untuk Anak Usia Dini

Sebarkan artikel ini
mengatasi anak tantrum
Orang tua mendampingi anak usia dini yang sedang tantrum dengan pendekatan parenting positif.

Tantrum merupakan bagian dari perkembangan emosi anak usia dini yang membutuhkan pendampingan, ketenangan, dan pola pengasuhan yang tepat.

SULUH.OR.ID – Mengatasi anak tantrum membutuhkan kesabaran, pemahaman, dan cara pengasuhan yang tepat. Ketika anak tiba-tiba menangis keras, berteriak, berguling di lantai, menendang, atau melempar mainan karena keinginannya tidak terpenuhi, orang tua sering merasa bingung. Apalagi jika kejadian tersebut berlangsung di tempat umum dan mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya.

Bayangkan seorang ibu sedang berbelanja bersama anaknya yang berusia dua tahun. Ketika melewati rak mainan, si kecil menunjuk sebuah mobil-mobilan dan meminta untuk membelinya. Sang ibu menolak karena mereka sudah memiliki mainan serupa di rumah. Seketika, anak menangis, berteriak, menjatuhkan tubuh ke lantai, dan menolak diajak berjalan.

Sebagian orang mungkin langsung berkomentar bahwa anak tersebut manja, nakal, atau kurang disiplin. Tidak sedikit pula yang menyarankan agar orang tua membiarkannya menangis sampai berhenti sendiri.

Namun, benarkah tantrum selalu menunjukkan perilaku buruk? Apakah anak sengaja melakukannya untuk memanipulasi orang tua? Bagaimana cara menenangkan anak tanpa harus mengabulkan seluruh keinginannya?

Dalam psikologi perkembangan, tantrum merupakan fenomena yang umum ditemukan pada anak usia dini. Ledakan emosi tersebut berkaitan dengan perkembangan otak, keterbatasan kemampuan berbahasa, kebutuhan untuk mandiri, serta kemampuan mengendalikan perasaan yang masih berkembang.

Karena itu, menghadapi tantrum tidak cukup hanya dengan meminta anak diam. Orang tua perlu memahami penyebabnya, mengenali kebutuhan anak, menjaga keselamatan, dan secara bertahap mengajarkan cara mengekspresikan emosi dengan lebih baik.

Apa Itu Tantrum pada Anak Usia Dini?

Tantrum atau temper tantrum adalah ledakan emosi yang muncul ketika anak mengalami frustrasi, kemarahan, kekecewaan, atau kesulitan menghadapi situasi tertentu.

Perilakunya dapat berupa menangis keras, berteriak, menghentakkan kaki, menendang, memukul, menggigit, melempar barang, menjatuhkan tubuh, hingga menolak berbicara atau disentuh.

Tantrum sering muncul ketika anak menginginkan sesuatu tetapi belum mampu mendapatkannya, menghadapi larangan, mengalami perubahan aktivitas, atau kesulitan menyampaikan kebutuhan melalui bahasa.

Meski demikian, tantrum bukanlah diagnosis gangguan mental. Pada masa kanak-kanak awal, perilaku tersebut sering menjadi bagian dari perkembangan yang normal.

Anak mulai memiliki keinginan dan pendapat sendiri, tetapi kemampuan mengatur emosi belum berkembang secepat dorongan untuk melakukan sesuatu secara mandiri.

Sebagai contoh, anak berusia dua tahun mungkin sudah mampu menentukan bahwa ia ingin memakai sepatu merah. Namun, ketika sepatu tersebut sedang dicuci, ia belum tentu mampu memahami alasan orang tua atau menerima kekecewaannya dengan tenang.

Bagi orang dewasa, persoalan itu mungkin terlihat sederhana. Bagi anak kecil, situasi tersebut dapat menjadi pengalaman emosional yang sangat besar.

Di sinilah orang tua perlu memahami bahwa kemampuan mengendalikan emosi tidak muncul secara otomatis. Anak mempelajarinya melalui pengalaman, perkembangan biologis, dan interaksi sehari-hari dengan orang dewasa.

Apakah Tantrum Sama dengan Anak Nakal?

Tantrum dan perilaku nakal tidak dapat disamakan begitu saja.

Istilah nakal merupakan penilaian sosial, sedangkan tantrum menggambarkan perilaku yang dapat muncul ketika anak mengalami kesulitan mengelola emosi.

Anak yang menangis karena tidak diperbolehkan bermain lebih lama belum tentu sedang berusaha melawan orang tuanya. Ia mungkin belum mempunyai keterampilan untuk menerima perubahan aktivitas.

Namun, memahami emosi anak bukan berarti membenarkan seluruh perilakunya.

Anak boleh merasa marah, kecewa, atau sedih. Akan tetapi, orang tua tetap perlu mengajarkan bahwa memukul, menggigit, dan menyakiti orang lain merupakan perilaku yang tidak dapat diterima.

Prinsip pengasuhan yang penting adalah menerima perasaan anak sambil tetap memberikan batasan terhadap tindakannya.

Pada Usia Berapa Anak Mulai Mengalami Tantrum?

Tantrum umumnya mulai terlihat pada masa balita, terutama ketika anak memasuki usia sekitar 12–18 bulan. Frekuensinya sering meningkat pada usia dua hingga tiga tahun dan cenderung berkurang seiring berkembangnya kemampuan bahasa serta regulasi emosi.

Periode ini sering dikenal sebagai terrible twos, meskipun istilah tersebut tidak berarti semua anak berusia dua tahun pasti mengalami tantrum berat.

Pada usia tersebut, anak sedang mengalami perkembangan pesat. Ia mulai berjalan, berbicara, mengeksplorasi lingkungan, mengenali kepemilikan, dan membangun keinginan untuk melakukan berbagai hal sendiri.

Sayangnya, kemampuan memahami aturan dan mengendalikan impuls belum berkembang dengan kecepatan yang sama.

Berikut gambaran umum perkembangan tantrum berdasarkan usia.

Usia AnakKarakteristik Perkembangan
0–12 bulanTangisan terutama menjadi sarana komunikasi kebutuhan fisik dan emosional
12–18 bulanFrustrasi dan penolakan mulai muncul ketika keinginan terhambat
18–24 bulanTantrum semakin mudah terlihat seiring berkembangnya kebutuhan untuk mandiri
2–3 tahunPeriode ketika tantrum sering ditemukan
3–4 tahunAnak mulai lebih mampu menggunakan bahasa untuk menyampaikan perasaan
4–5 tahunPada banyak anak, frekuensi tantrum mulai berkurang
5–6 tahunKemampuan mengelola frustrasi dan memahami aturan semakin berkembang

Rentang usia tersebut bukan ukuran mutlak. Setiap anak mempunyai perkembangan, temperamen, dan kebutuhan yang berbeda.

National Health Service (NHS) menjelaskan bahwa tantrum lazim mulai muncul sekitar usia 18 bulan dan umumnya berkurang ketika kemampuan komunikasi anak semakin berkembang.

Apakah Anak Tantrum Setiap Hari Masih Normal?

Tantrum yang terjadi setiap hari tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan perkembangan.

Orang tua perlu memperhatikan usia anak, frekuensi kejadian, intensitas, durasi, pemicu, serta kemampuan anak untuk kembali tenang.

Tinjauan klinis Temper Tantrums dalam StatPearls yang diperbarui pada Juni 2026 merangkum penelitian yang menunjukkan bahwa banyak episode tantrum berlangsung relatif singkat. Dalam salah satu penelitian terhadap 335 anak, sekitar 75 persen episode berlangsung selama lima menit atau kurang, dengan median durasi sekitar tiga menit.

Namun, angka tersebut bukan batas diagnosis.

Tantrum yang berlangsung singkat tetapi melibatkan tindakan membahayakan tetap memerlukan perhatian. Sebaliknya, satu episode yang lebih lama ketika anak sedang sakit atau sangat kelelahan tidak otomatis menunjukkan gangguan psikologis.

Mengapa Anak Mengalami Tantrum? Memahami Perkembangan Otaknya

Untuk memahami tantrum, kita perlu mengetahui bahwa otak anak usia dini masih berada dalam proses perkembangan.

Kemampuan menahan dorongan, mengatur perhatian, memahami konsekuensi, menunda kepuasan, dan mengendalikan respons emosional tidak berkembang sekaligus.

Keterampilan tersebut berkaitan dengan perkembangan fungsi eksekutif dan jaringan otak yang terus mengalami pematangan sepanjang masa kanak-kanak hingga usia dewasa muda.

Itulah sebabnya anak kecil dapat memahami sebuah aturan ketika sedang tenang, tetapi kesulitan menerapkannya ketika merasa sangat marah atau kecewa.

Misalnya, seorang anak mungkin sudah mengetahui bahwa memukul teman tidak diperbolehkan. Namun, ketika mainannya direbut, ia dapat bereaksi dengan memukul sebelum sempat menggunakan kemampuan bahasa untuk menyampaikan keberatannya.

Perilaku tersebut tetap perlu dibatasi, tetapi orang tua juga perlu memahami bahwa anak sedang mempelajari keterampilan yang belum sepenuhnya dikuasai.

Mengapa Nasihat Panjang Tidak Efektif Ketika Anak Tantrum?

Ketika emosi sedang memuncak, anak biasanya mengalami kesulitan memusatkan perhatian pada penjelasan panjang.

Orang tua mungkin berusaha mengatakan bahwa mainan tersebut mahal, uang harus digunakan untuk kebutuhan lain, dan anak perlu belajar berhemat. Namun, anak berusia dua tahun yang sedang menangis keras belum tentu mampu memproses seluruh penjelasan tersebut.

Karena itu, saat tantrum berlangsung, komunikasi sebaiknya dibuat singkat, sederhana, dan menenangkan.

Penjelasan yang lebih lengkap dapat diberikan setelah anak kembali tenang.

Cara ini bukan berarti orang tua menyerah terhadap perilaku anak, melainkan menyesuaikan komunikasi dengan kemampuan perkembangannya.

Mengenal Co-Regulation: Anak Belajar Tenang Bersama Orang Dewasa

Salah satu konsep penting dalam psikologi perkembangan modern adalah co-regulation.

Co-regulation merupakan proses ketika orang dewasa membantu anak mengatur emosi melalui hubungan yang aman, responsif, dan konsisten.

Anak usia dini belum selalu mampu menenangkan dirinya sendiri. Ia membutuhkan pengalaman berulang bersama orang dewasa yang membantunya memahami perasaan dan menemukan respons yang lebih sesuai.

Misalnya, ketika anak menangis karena menara balok yang disusunnya runtuh, orang tua dapat mendekat dan mengatakan:

“Kamu kesal karena menaranya roboh, ya? Ibu di sini. Nanti kita coba lagi.”

Kalimat tersebut membantu anak mengenali pengalaman emosionalnya tanpa membuatnya merasa bahwa kemarahan merupakan sesuatu yang memalukan.

Melalui pengalaman serupa yang berulang, anak secara bertahap belajar mengembangkan kemampuan self-regulation atau pengaturan emosi secara mandiri.

Penyebab Anak Tantrum yang Sering Tidak Disadari Orang Tua

Tantrum tidak selalu muncul karena anak dilarang membeli mainan atau tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi kemampuan anak menghadapi frustrasi. Bahkan, satu episode tantrum sering dipicu oleh beberapa kondisi sekaligus.

1. Anak Lapar atau Terlambat Makan

Rasa lapar dapat membuat anak lebih mudah tersinggung dan kesulitan menghadapi perubahan situasi.

Anak kecil belum selalu mampu mengatakan bahwa tubuhnya membutuhkan makanan. Ia mungkin hanya menunjukkan kegelisahan, menangis, atau menolak melakukan sesuatu.

Karena itu, ketika tantrum muncul menjelang waktu makan, orang tua perlu mempertimbangkan kemungkinan bahwa anak sedang lapar.

Menjaga jadwal makan dan menyediakan makanan selingan yang sesuai dapat membantu mengurangi pemicu tersebut.

2. Kurang Tidur dan Kelelahan

Tidur mempunyai peranan penting dalam perkembangan otak, perhatian, dan pengaturan emosi.

Anak yang kurang tidur dapat menjadi lebih sensitif terhadap suara, larangan, perubahan aktivitas, atau gangguan kecil.

Sebagai contoh, anak yang biasanya tidur siang pukul 12.00 mungkin lebih mudah mengalami tantrum apabila diajak bepergian hingga sore tanpa kesempatan beristirahat.

Untuk anak usia 1–2 tahun, rekomendasi tidur umumnya sekitar 11–14 jam per 24 jam, termasuk tidur siang. Sementara itu, anak usia 3–5 tahun membutuhkan sekitar 10–13 jam tidur per 24 jam.

Kebutuhan setiap anak dapat berbeda, tetapi rutinitas tidur yang cukup dan konsisten merupakan bagian penting dalam pencegahan tantrum.

3. Anak Belum Mampu Mengungkapkan Keinginannya

Keterbatasan bahasa merupakan salah satu faktor yang sering memicu tantrum.

Anak mungkin ingin mengatakan bahwa bajunya tidak nyaman, makanannya terlalu panas, atau ia belum selesai bermain. Namun, karena kosakatanya masih terbatas, keinginan tersebut sulit disampaikan.

Akibatnya, frustrasi muncul melalui tangisan, teriakan, atau tindakan fisik.

Orang tua dapat membantu dengan memberikan contoh kalimat sederhana seperti “Mau minum”, “Tolong bantu”, “Aku marah”, atau “Belum selesai”.

Jika anak menunjukkan keterlambatan bahasa yang bermakna, pemeriksaan perkembangan juga perlu dipertimbangkan.

4. Keinginan untuk Mandiri

Anak usia dini sedang membangun kesadaran bahwa dirinya mempunyai kemampuan dan pilihan sendiri.

Ia mulai ingin memakai baju, memegang sendok, membuka pintu, memilih makanan, atau mengambil mainan tanpa bantuan.

Ketika orang tua terlalu cepat mengambil alih, anak dapat merasa frustrasi.

Misalnya, anak ingin memakai sepatu sendiri, tetapi orang tua terburu-buru dan langsung memakaikannya. Anak kemudian menangis dan menolak berangkat.

Dalam situasi seperti ini, memberikan kesempatan untuk mencoba dapat membantu memenuhi kebutuhan otonominya.

Orang tua dapat menawarkan bantuan tanpa langsung mengambil alih seluruh aktivitas.

5. Terlalu Banyak Rangsangan dari Lingkungan

Sebagian anak lebih mudah kewalahan ketika berada di tempat yang ramai, bising, panas, atau penuh aktivitas.

Pusat perbelanjaan, pesta keluarga, perjalanan panjang, dan acara yang berlangsung hingga malam dapat menjadi situasi yang menantang.

Anak mungkin terlihat baik-baik saja selama beberapa waktu, tetapi kemudian mengalami ledakan emosi ketika kapasitasnya menghadapi rangsangan sudah menurun.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan tanda awal kelelahan, seperti anak mulai rewel, menutup telinga, menghindari keramaian, atau meminta pulang.

6. Perubahan Rutinitas Mendadak

Anak usia dini biasanya lebih mudah menghadapi aktivitas ketika mempunyai rutinitas yang dapat diperkirakan.

Perubahan mendadak dari bermain menjadi mandi, dari menonton menjadi tidur, atau dari rumah menuju sekolah dapat memicu penolakan.

Memberikan pemberitahuan sebelum pergantian aktivitas membantu anak mempersiapkan diri.

Misalnya, orang tua dapat mengatakan bahwa waktu bermain tinggal lima menit, kemudian mengingatkan kembali ketika waktunya hampir selesai.

7. Pola Pengasuhan yang Tidak Konsisten

Aturan yang berubah-ubah dapat membuat anak kesulitan memahami batasan.

Misalnya, pada suatu hari orang tua melarang anak membeli permen, tetapi akhirnya mengabulkan permintaan tersebut setelah anak menangis keras.

Jika pola itu terus berulang, anak dapat mempelajari bahwa tangisan merupakan salah satu cara efektif untuk memperoleh sesuatu.

Hal ini tidak berarti semua tantrum merupakan tindakan manipulatif yang disengaja. Perilaku anak dapat terbentuk melalui konsekuensi yang berulang, bahkan ketika anak belum memahami proses tersebut secara sadar.

Karena itu, orang tua perlu membangun aturan yang konsisten sekaligus tetap responsif terhadap kebutuhan emosional anak.

8. Penggunaan Gawai yang Sulit Dihentikan

Tantrum ketika anak diminta berhenti menonton video atau bermain gim menjadi salah satu persoalan yang semakin relevan dalam pengasuhan modern.

Aktivitas digital yang menarik dapat membuat anak sulit menerima penghentian mendadak, terutama ketika kemampuan mengatur emosi masih berkembang.

American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org menekankan pentingnya membantu anak membangun kebiasaan penggunaan media digital yang sehat.

Orang tua sebaiknya tidak selalu menggunakan gawai sebagai satu-satunya cara menenangkan anak ketika bosan, marah, atau kecewa.

Anak juga membutuhkan kesempatan bermain langsung, bergerak, berinteraksi, dan belajar menghadapi ketidaknyamanan tanpa selalu bergantung pada layar.

Cara Mengatasi Anak Tantrum dengan Tepat

Menghadapi anak tantrum membutuhkan strategi yang berbeda sesuai tahap kejadiannya.

Pendekatan yang digunakan ketika anak mulai menunjukkan frustrasi tidak selalu sama dengan cara menangani anak yang sudah berteriak, menendang, atau kehilangan kemampuan merespons komunikasi dengan baik.

Berikut langkah praktis yang dapat diterapkan orang tua.

1. Tenangkan Diri Sebelum Menenangkan Anak

Ketika anak berteriak keras, orang tua juga dapat mengalami peningkatan stres dan frustrasi.

Dorongan untuk membentak, mengancam, atau segera menghentikan tangisan mungkin muncul, terutama jika tantrum terjadi di tempat umum.

Namun, respons emosional orang tua dapat memengaruhi situasi.

Cobalah menjaga nada suara tetap stabil, mengurangi gerakan yang mengintimidasi, dan menghindari perdebatan panjang.

Apabila orang tua merasa hampir kehilangan kendali, pastikan anak berada di tempat aman dan mintalah orang dewasa tepercaya mengambil alih sementara bila memungkinkan.

Menjaga ketenangan bukan berarti orang tua tidak boleh merasa lelah atau marah. Yang penting adalah tidak melampiaskan emosi tersebut melalui tindakan yang menyakiti anak.

2. Pastikan Anak Berada dalam Kondisi Aman

Keselamatan merupakan prioritas ketika tantrum berlangsung.

Jika anak menjatuhkan tubuh di dekat tangga, jalan raya, benda tajam, atau permukaan berbahaya, segera pindahkan atau amankan situasinya.

Apabila anak memukul, menggigit, atau melempar benda keras, orang tua perlu menghentikan perilaku tersebut dengan cara yang aman dan tidak menyakitkan.

Misalnya, jauhkan benda yang berpotensi melukai dan katakan dengan singkat:

“Ibu tidak membiarkan kamu memukul.”

Hindari mengguncang, mencubit, menampar, atau melakukan tindakan fisik yang dapat mencederai anak.

3. Jangan Memaksa Anak Langsung Berhenti Menangis

Tangisan merupakan salah satu bentuk ekspresi emosi.

Meminta anak segera diam tanpa membantu memahami situasinya tidak selalu efektif, terutama ketika ia sedang sangat kewalahan.

Orang tua dapat tetap berada di dekat anak sambil memberikan waktu agar intensitas emosinya menurun.

Kalimat sederhana seperti “Ibu di sini” atau “Kamu sedang marah, ya” dapat digunakan tanpa harus terus-menerus berbicara.

Sebagian anak membutuhkan kedekatan fisik, sedangkan sebagian lainnya lebih nyaman jika diberi sedikit ruang.

Perhatikan respons anak dan hindari memaksakan pelukan apabila ia menolaknya.

4. Validasi Perasaan, Bukan Perilaku yang Membahayakan

Validasi emosi berarti mengakui bahwa perasaan anak merupakan pengalaman yang nyata baginya.

Misalnya, ketika anak marah karena tidak diperbolehkan membeli mainan, orang tua dapat mengatakan:

“Kamu kecewa karena ingin mobil-mobilan itu.”

Namun, validasi tidak harus diikuti dengan mengabulkan permintaannya.

Orang tua dapat melanjutkan:

“Hari ini kita tidak membeli mainan. Kamu boleh kecewa, tetapi kita tetap pulang.”

Dengan cara tersebut, anak memperoleh dua pembelajaran sekaligus: perasaannya dapat diterima, tetapi keputusan dan batasan tetap berlaku.

5. Gunakan Kalimat Pendek dan Mudah Dipahami

Anak usia dini membutuhkan komunikasi yang sesuai dengan tahap perkembangan bahasanya.

Ketika tantrum sedang berlangsung, hindari penjelasan yang terlalu panjang atau pertanyaan bertubi-tubi.

Gunakan kalimat sederhana seperti:

  • “Ibu di sini.”
  • “Kamu sedang marah.”
  • “Memukul tidak boleh.”
  • “Kita tunggu sampai tenang.”
  • “Mau duduk dekat Ibu?”

Kalimat singkat membantu mengurangi tuntutan komunikasi ketika anak sedang mengalami tekanan emosional.

6. Jangan Langsung Mengabulkan Permintaan untuk Menghentikan Tangisan

Mengabulkan seluruh permintaan anak mungkin dapat menghentikan tantrum dengan cepat, tetapi belum tentu membantu perkembangan kemampuan menghadapi frustrasi.

Misalnya, orang tua telah menetapkan bahwa anak hanya boleh membeli satu mainan. Ketika anak meminta mainan kedua dan mulai menangis, orang tua sebaiknya tidak otomatis mengubah keputusan hanya karena ingin segera menghentikan tangisannya.

Tetaplah mendampingi anak sambil mempertahankan batasan yang wajar.

Namun, orang tua juga perlu membedakan permintaan yang berkaitan dengan keinginan dan kebutuhan dasar. Anak yang menangis karena lapar, sakit, takut, atau membutuhkan bantuan tentu memerlukan respons yang sesuai.

7. Berikan Pilihan Sederhana

Memberikan pilihan dapat membantu anak mengembangkan rasa mandiri sekaligus memahami batasan.

Daripada mengatakan, “Sekarang mandi, tidak boleh membantah!”, orang tua dapat mencoba:

“Sekarang waktunya mandi. Mau membawa bebek atau kapal mainan?”

Kedua pilihan tetap mengarah pada tujuan yang sama, yaitu mandi.

Strategi ini paling efektif digunakan sebelum tantrum mencapai puncaknya atau ketika anak mulai mampu kembali berinteraksi.

8. Bantu Anak Menenangkan Tubuhnya

Setelah intensitas tantrum mulai menurun, orang tua dapat menawarkan kegiatan sederhana yang membantu anak kembali nyaman.

Contohnya duduk di tempat tenang, minum air jika diperlukan, menarik napas perlahan bersama orang tua, atau memeluk boneka kesayangan.

Latihan pernapasan tidak perlu dipaksakan ketika anak masih menangis keras.

Keterampilan tersebut lebih baik diperkenalkan ketika anak sedang tenang sehingga ia mempunyai kesempatan untuk mempraktikkannya sebelum menghadapi situasi sulit.

9. Ajarkan Cara Mengungkapkan Emosi Setelah Tantrum Mereda

Setelah anak kembali tenang, orang tua dapat membantu menjelaskan pengalaman yang baru saja terjadi.

Misalnya:

“Tadi kamu marah karena mainannya diambil. Kalau marah, kamu bisa bilang, ‘Aku belum selesai.’ Memukul teman tidak boleh.”

Penjelasan tersebut membantu anak menghubungkan perasaan, bahasa, dan perilaku.

Untuk anak usia dua tahun, pembelajaran cukup dilakukan melalui kalimat sederhana. Anak yang lebih besar dapat diajak mendiskusikan alternatif tindakan secara lebih lengkap.

10. Berikan Apresiasi terhadap Kemajuan Kecil

Perkembangan kemampuan mengelola emosi berlangsung secara bertahap.

Ketika anak mulai mampu meminta bantuan, menggunakan kata-kata, atau berhenti memukul meskipun masih menangis, orang tua dapat memberikan apresiasi yang spesifik.

Misalnya:

“Tadi kamu marah, tetapi kamu sudah mencoba bilang minta tolong. Itu bagus.”

Apresiasi terhadap perilaku positif membantu anak memahami tindakan apa yang diharapkan.

Namun, jangan menjadikan keberhasilan berhenti menangis sebagai satu-satunya ukuran. Anak tetap boleh mengalami kesedihan atau kekecewaan.

Mengatasi Anak Tantrum Berdasarkan Situasinya

Setiap tantrum mempunyai konteks yang berbeda. Oleh karena itu, orang tua perlu menyesuaikan strategi dengan situasi yang sedang dihadapi.

SituasiRespons yang Dianjurkan
Anak tantrum karena laparPeriksa kebutuhan makan dan berikan makanan yang sesuai
Anak tantrum karena mengantukKurangi stimulasi dan bantu anak beristirahat
Anak menangis meminta mainanValidasi perasaan sambil mempertahankan batasan
Anak tantrum ketika gawai diambilTerapkan rutinitas penggunaan dan pemberitahuan sebelum berhenti
Anak memukul ketika marahHentikan perilaku berbahaya dan ajarkan alternatif setelah tenang
Anak tantrum di tempat umumUtamakan keselamatan dan pindah ke tempat lebih tenang bila diperlukan
Anak menolak mandi atau berpakaianBerikan pilihan sederhana dan waktu transisi
Anak tantrum karena kesulitan berbicaraBantu menyebutkan kebutuhan dengan kata atau isyarat sederhana

Tabel tersebut dapat menjadi panduan awal, tetapi tidak menggantikan penilaian terhadap kondisi individual anak.

Cara Mengatasi Anak Tantrum di Tempat Umum

Tantrum di pusat perbelanjaan, restoran, tempat wisata, atau acara keluarga sering terasa lebih menantang karena orang tua juga menghadapi perhatian lingkungan sekitar.

Sebagian orang tua akhirnya merasa harus segera menghentikan tangisan agar tidak dianggap gagal mendidik anak.

Padahal, prioritas utama tetap keselamatan dan kebutuhan anak, bukan penilaian orang lain.

Ketika anak mengalami tantrum di tempat umum, orang tua dapat mendekat, memastikan anak tidak berada dalam bahaya, dan mengurangi rangsangan lingkungan apabila memungkinkan.

Jika situasinya terlalu ramai, ajak atau pindahkan anak secara aman ke tempat yang lebih tenang.

Hindari mempermalukan anak dengan mengatakan bahwa semua orang sedang melihatnya atau menyebutnya sebagai anak nakal.

Kalimat semacam itu belum tentu membantu anak mengendalikan emosi dan justru dapat menambah tekanan.

Setelah anak tenang, orang tua dapat melanjutkan aktivitas atau memutuskan pulang apabila anak terlihat sangat lelah.

Tidak semua rencana harus dipertahankan ketika kondisi anak sudah tidak memungkinkan.

Apakah Anak Tantrum Sebaiknya Dibiarkan atau Dipeluk?

Pertanyaan ini sering memunculkan perdebatan dalam pengasuhan.

Sebagian orang berpendapat bahwa anak tantrum harus dibiarkan agar tidak semakin manja. Sebagian lainnya menganggap anak harus selalu dipeluk agar merasa aman.

Kedua pandangan tersebut terlalu sederhana apabila diterapkan pada seluruh situasi.

Anak yang sedang mengalami tekanan emosional membutuhkan respons yang mempertimbangkan penyebab, usia, kondisi fisik, dan kebutuhan individualnya.

Mengenal Pendekatan Time-In

Time-in merupakan pendekatan ketika orang dewasa tetap hadir dan memberikan dukungan saat anak mengalami kesulitan emosional.

Orang tua dapat duduk di dekat anak, berbicara dengan lembut, atau menawarkan pelukan apabila anak menginginkannya.

Tujuannya adalah membantu anak kembali tenang melalui hubungan yang aman.

Namun, time-in tidak berarti seluruh permintaan anak harus dipenuhi. Orang tua tetap dapat mempertahankan batasan sambil memberikan dukungan emosional.

Bagaimana dengan Time-Out?

Time-out merupakan salah satu strategi disiplin perilaku yang digunakan dalam kondisi tertentu.

Dalam penerapan yang terstruktur, strategi ini bertujuan menghentikan sementara akses terhadap situasi yang memperkuat perilaku tertentu.

Namun, time-out tidak boleh digunakan sebagai bentuk penghinaan, ancaman, penelantaran, atau pengurungan yang membahayakan.

CDC dan American Academy of Pediatrics membahas penggunaan strategi disiplin perilaku dalam konteks yang sesuai, sementara pendekatan suportif tetap penting ketika anak sedang mengalami distress emosional.

Pemilihan strategi sebaiknya mempertimbangkan usia, kebutuhan perkembangan, jenis perilaku, dan kondisi anak.

Mengapa Memukul Anak Bukan Solusi?

Memukul, mencubit, atau mengancam anak mungkin dapat membuatnya berhenti melakukan sesuatu karena takut. Namun, rasa takut tidak sama dengan kemampuan mengelola emosi.

Anak membutuhkan contoh bagaimana menghadapi kemarahan tanpa kekerasan.

Ketika orang tua merespons frustrasi melalui pukulan, anak justru dapat menerima contoh bahwa kekuatan fisik merupakan cara menyelesaikan konflik.

UNICEF menekankan pentingnya disiplin positif yang mengajarkan perilaku melalui hubungan, komunikasi, dan batasan yang konsisten tanpa menggunakan kekerasan.

Kesalahan Orang Tua yang Dapat Memperburuk Tantrum

Dalam situasi melelahkan, orang tua terkadang menggunakan respons spontan yang justru dapat memperbesar konflik.

Beberapa kebiasaan berikut sebaiknya dihindari.

Pertama, membentak anak agar segera diam. Suara keras dapat meningkatkan tekanan emosional dan membuat anak semakin sulit kembali tenang.

Kedua, mempermalukan anak di depan orang lain. Menyebut anak nakal, cengeng, atau memalukan tidak membantu mengajarkan keterampilan mengelola emosi.

Ketiga, memberikan ancaman yang tidak realistis. Ancaman seperti meninggalkan anak sendirian dapat menimbulkan ketakutan dan tidak memberikan contoh penyelesaian masalah yang sehat.

Keempat, selalu mengabulkan permintaan setelah anak berteriak. Pola yang berulang dapat membuat perilaku tantrum semakin efektif sebagai cara memperoleh sesuatu.

Kelima, memberikan penjelasan panjang ketika anak sedang kewalahan. Pembelajaran emosional lebih efektif dilakukan setelah intensitas tantrum menurun.

Keenam, membandingkan anak dengan saudara atau teman sebaya. Setiap anak mempunyai temperamen dan perkembangan yang berbeda.

Ketujuh, mengabaikan kebutuhan fisik. Anak yang sedang sakit, lapar, atau sangat lelah membutuhkan respons berbeda dari anak yang sekadar kecewa karena suatu permintaan ditolak.

Kedelapan, menganggap seluruh tantrum sebagai manipulasi. Anggapan tersebut dapat membuat orang tua melewatkan kebutuhan perkembangan, kesulitan komunikasi, atau kondisi kesehatan yang mendasarinya.

Mencegah Tantrum: Membangun Kebiasaan Sehari-hari yang Mendukung Regulasi Emosi

Mencegah tantrum bukan berarti membuat anak tidak pernah marah atau kecewa.

Frustrasi merupakan bagian dari kehidupan dan anak perlu belajar menghadapinya. Namun, orang tua dapat mengurangi pemicu yang tidak perlu serta menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan emosional.

Bangun Rutinitas yang Konsisten

Jadwal makan, tidur, bermain, mandi, dan aktivitas keluarga yang relatif teratur membantu anak memahami apa yang akan terjadi.

Rutinitas tidak harus kaku, tetapi sebaiknya cukup dapat diperkirakan.

Ketika perubahan diperlukan, berikan pemberitahuan sesuai kemampuan pemahaman anak.

Sediakan Waktu Bermain Bersama

Bermain merupakan sarana penting bagi perkembangan sosial, bahasa, dan emosi anak.

Melalui permainan, anak belajar menunggu giliran, menghadapi kegagalan kecil, meminta bantuan, dan menyelesaikan masalah.

Orang tua tidak harus menyediakan mainan mahal. Menyusun balok, menggambar, bermain peran, atau membaca buku bersama dapat menjadi kesempatan membangun hubungan sekaligus mengembangkan keterampilan emosional.

Ajarkan Kosakata Emosi

Anak perlu mengenal bahwa perasaan mempunyai nama.

Mulailah dengan kata-kata sederhana seperti senang, sedih, marah, takut, kecewa, dan lelah.

Ketika membaca buku cerita, orang tua dapat menunjukkan ekspresi tokoh dan mengajak anak mengenali perasaannya.

Misalnya, “Lihat, kelincinya sedih karena mainannya hilang.”

Pembelajaran semacam ini membantu anak menghubungkan pengalaman emosional dengan bahasa.

Berikan Kesempatan untuk Mandiri

Biarkan anak mencoba melakukan aktivitas sederhana sesuai usia dan kemampuannya.

Ia dapat memilih antara dua pakaian, membantu membereskan mainan, atau mencoba memakai sepatu sendiri.

Kesempatan tersebut membantu memenuhi kebutuhan otonomi sekaligus membangun rasa percaya diri.

Jadilah Contoh dalam Mengelola Emosi

Anak belajar bukan hanya dari perkataan orang tua, tetapi juga dari perilaku yang diamatinya.

Ketika orang tua sedang kesal, ia dapat menunjukkan cara mengelola emosi secara sehat.

Misalnya:

“Ayah sedang kesal. Ayah mau duduk sebentar supaya bisa bicara dengan tenang.”

Contoh tersebut mengajarkan bahwa orang dewasa juga mengalami emosi, tetapi dapat memilih tindakan yang tidak menyakiti orang lain.

Mengajarkan Anak Mengenali Emosi dengan Metode Emotion Coaching

Salah satu pendekatan yang relevan dalam pengasuhan modern adalah emotion coaching, yaitu proses membantu anak mengenali, memahami, dan mengelola perasaannya.

CDC melalui panduan yang diperbarui pada April 2026 menjelaskan lima langkah yang dapat digunakan orang tua.

1. Notice: Kenali Tanda Emosi Anak

Perhatikan perubahan ekspresi wajah, gerakan tubuh, suara, dan perilaku anak.

Misalnya, anak mulai mengerutkan wajah, menggenggam tangan, atau meninggikan suara ketika mainannya tidak berhasil disusun.

Tanda-tanda tersebut dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk memberikan bantuan sebelum emosi semakin intens.

2. Connect: Bangun Hubungan Emosional

Dekati anak dan tunjukkan bahwa orang tua hadir untuk membantunya.

Kehadiran tersebut tidak harus selalu berupa pelukan. Duduk di dekat anak atau berbicara dengan nada tenang juga dapat memberikan dukungan.

3. Listen: Dengarkan Pengalaman Anak

Berikan kesempatan bagi anak untuk menyampaikan apa yang sedang dirasakan.

Anak yang kemampuan bahasanya masih terbatas mungkin hanya mampu menunjuk benda, menangis, atau menggunakan satu-dua kata.

Orang tua dapat membantu memahami pesannya tanpa terburu-buru menghakimi.

4. Name: Bantu Anak Menamai Emosi

Gunakan kata sederhana untuk menjelaskan pengalaman emosional anak.

Misalnya, “Kamu kecewa karena belum boleh bermain lagi.”

Dengan mengenal nama emosi, anak secara bertahap memperoleh kemampuan untuk mengomunikasikan perasaannya.

5. Find Good Solutions: Ajarkan Penyelesaian Masalah

Ketika anak sudah cukup tenang, bantu ia menemukan cara menghadapi situasi.

Misalnya, meminta bantuan, menunggu giliran, menggunakan kata-kata, atau mencoba kembali setelah gagal.

Tujuannya bukan menghilangkan seluruh pengalaman negatif, melainkan mengembangkan kemampuan anak untuk menghadapinya.

Dampak Tantrum terhadap Perkembangan Anak

Tantrum yang muncul sebagai bagian dari perkembangan normal tidak otomatis menimbulkan dampak buruk jangka panjang.

Justru, pengalaman menghadapi frustrasi dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk mempelajari keterampilan emosional ketika mendapatkan pendampingan yang sesuai.

Anak dapat belajar bahwa kekecewaan merupakan pengalaman yang wajar, tetapi tindakan yang membahayakan tetap mempunyai batasan.

Ia juga belajar bahwa orang tua dapat mempertahankan aturan tanpa harus mengancam atau menyakitinya.

Namun, tantrum yang sangat intens, berkepanjangan, atau disertai kesulitan perkembangan lain memerlukan perhatian lebih lanjut.

Masalah perilaku yang menetap dapat memengaruhi interaksi sosial, aktivitas keluarga, dan pengalaman belajar anak.

Selain itu, tantrum berulang juga dapat meningkatkan stres pengasuhan. Orang tua mungkin merasa lelah, frustrasi, atau kesulitan membagi perhatian dengan anggota keluarga lainnya.

Karena itu, dukungan terhadap kesehatan emosional orang tua juga merupakan bagian penting dari penanganan tantrum.

Kapan Anak Tantrum Harus Dibawa ke Dokter atau Psikolog?

Tidak semua tantrum membutuhkan pemeriksaan profesional. Namun, orang tua perlu mengenali tanda ketika perilaku anak memerlukan evaluasi lebih lanjut.

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP) menjelaskan bahwa tantrum yang sangat berat, berkepanjangan, membahayakan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari perlu mendapatkan perhatian profesional.

Berikut beberapa kondisi yang patut diwaspadai.

Tanda yang Perlu DiperhatikanLangkah Orang Tua
Tantrum semakin sering dan intensCatat pola kejadian dan konsultasikan
Episode berulang berlangsung sangat lama, termasuk lebih dari 25 menitPertimbangkan evaluasi profesional
Anak sengaja melukai dirinya sendiriSegera cari penilaian profesional
Anak menunjukkan agresi yang membahayakanUtamakan keselamatan dan cari bantuan
Tantrum mengganggu aktivitas PAUD atau interaksi sosialKonsultasikan perkembangan dan perilaku
Anak mengalami keterlambatan komunikasi yang bermaknaLakukan pemeriksaan perkembangan
Anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasaiSegera konsultasikan kepada dokter
Tantrum berat terus berlangsung pada usia yang lebih besarEvaluasi sesuai kondisi individual

Perlu dipahami bahwa satu tanda saja tidak otomatis menunjukkan diagnosis tertentu.

Tantrum dapat ditemukan pada anak dengan perkembangan tipikal maupun anak yang mempunyai kebutuhan perkembangan khusus. Pemeriksaan profesional diperlukan untuk memahami keseluruhan kondisi, bukan sekadar memberikan label berdasarkan satu perilaku.

Di Indonesia, orang tua dapat memulai konsultasi melalui dokter anak. Jika diperlukan, pemeriksaan dapat dilanjutkan kepada dokter anak konsultan tumbuh kembang, psikolog klinis anak, atau profesional terkait.

Apabila tantrum disertai cedera berat, kehilangan kesadaran, gangguan pernapasan berkepanjangan, atau keadaan medis akut lainnya, segera cari pertolongan medis.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Anak Tantrum (FAQ)

1. Apa penyebab utama anak tantrum?

Tantrum dapat dipicu oleh frustrasi, lapar, kurang tidur, keterbatasan bahasa, perubahan rutinitas, keinginan untuk mandiri, atau kondisi lingkungan yang membuat anak kewalahan. Sering kali beberapa faktor muncul secara bersamaan.

2. Bagaimana cara mengatasi anak tantrum usia 2 tahun?

Jaga ketenangan, pastikan keselamatan, gunakan kalimat pendek, validasi perasaan anak, dan pertahankan batasan yang wajar. Setelah anak kembali tenang, ajarkan cara sederhana untuk menyampaikan kebutuhan dan emosi.

3. Apakah anak tantrum harus dibiarkan menangis?

Anak tidak harus dipaksa segera berhenti menangis, tetapi kebutuhan dan keselamatannya tetap harus diperhatikan. Orang tua dapat memberikan ruang sambil tetap hadir dan menawarkan dukungan.

4. Apakah memeluk anak tantrum membuatnya manja?

Tidak secara otomatis. Pelukan yang diterima anak dapat menjadi bentuk dukungan emosional. Namun, jangan memaksakan sentuhan apabila anak sedang menolaknya.

5. Bagaimana mengatasi anak tantrum karena HP?

Bangun aturan penggunaan gawai yang konsisten, berikan pemberitahuan sebelum waktu layar berakhir, dan sediakan aktivitas pengganti yang sesuai usia. Hindari menjadikan gawai sebagai satu-satunya sarana menenangkan emosi anak.

6. Apakah tantrum setiap hari merupakan tanda autisme?

Tidak. Tantrum saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya autisme atau kondisi perkembangan lainnya. Evaluasi perlu mempertimbangkan komunikasi, interaksi sosial, perilaku, dan keseluruhan perkembangan anak.

7. Apakah anak tantrum boleh dimarahi?

Orang tua boleh menetapkan batasan dan menghentikan perilaku berbahaya, tetapi membentak, mempermalukan, atau menggunakan kekerasan bukan pendekatan yang dianjurkan.

8. Berapa lama tantrum yang masih dianggap wajar?

Banyak tantrum pada anak usia dini berlangsung beberapa menit. Namun, durasi saja tidak menentukan apakah perilaku tergolong normal. Intensitas, frekuensi, keselamatan, dan dampaknya terhadap aktivitas anak juga perlu diperhatikan.

9. Apakah tantrum bisa dicegah?

Tidak semua tantrum dapat dicegah karena frustrasi merupakan bagian dari perkembangan anak. Namun, rutinitas yang konsisten, tidur cukup, komunikasi yang sesuai usia, dan lingkungan yang suportif dapat membantu mengurangi pemicunya.

10. Apa yang harus dilakukan setelah anak selesai tantrum?

Bantu anak mengenali perasaannya, jelaskan batasan secara sederhana, dan ajarkan alternatif perilaku yang lebih aman. Hindari mengungkit kejadian untuk mempermalukan atau menghukumnya kembali.

Kesimpulan: Mengatasi Anak Tantrum Bukan Sekadar Membuatnya Berhenti Menangis

Mengatasi anak tantrum pada usia dini membutuhkan pemahaman bahwa anak sedang berada dalam proses mempelajari keterampilan emosional yang belum sepenuhnya dikuasai. Tangisan, teriakan, dan penolakan dapat menjadi bentuk frustrasi ketika keinginan, kemampuan bahasa, serta pengendalian diri belum berkembang secara seimbang.

Orang tua mempunyai peranan penting dalam membantu anak melewati proses tersebut. Menjaga ketenangan, memastikan keselamatan, mengenali penyebab, memberikan batasan yang konsisten, dan mengajarkan keterampilan setelah anak kembali tenang merupakan langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengasuhan yang responsif bukan berarti mengabulkan seluruh permintaan anak. Sebaliknya, anak membutuhkan pengalaman bahwa perasaannya dapat diterima, sementara perilaku yang membahayakan tetap mempunyai batasan.

Pada akhirnya, keberhasilan menghadapi tantrum tidak hanya terlihat ketika anak berhenti menangis. Keberhasilan yang lebih bermakna muncul ketika anak secara bertahap mampu mengenali emosinya, menyampaikan kebutuhan melalui bahasa, menerima kekecewaan, dan menghadapi frustrasi tanpa menyakiti dirinya sendiri maupun orang lain. []