IKABU Tambakberas turut menyemarakkan Muktamar ke-35 NU di Jombang melalui Tadarus Puisi dan Ngaji Event yang mempertemukan pesantren, sastra, budaya, dan kreativitas dalam satu panggung.
SULUH.OR.ID – Suasana Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tidak hanya diwarnai agenda organisasi. Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU) Tambakberas turut menghadirkan kegiatan seni, sastra, budaya, dan kreativitas melalui sejumlah acara.
Salah satunya digelar melalui Tadarus Puisi yang berlangsung di Graha IKABU, Kantor Pusat IKABU, Jalan KH Wahab Hasbullah Nomor 124, Tambakrejo, Jombang, Sabtu (29/8/2026) malam.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana santai. Graha IKABU yang memiliki konsep kafe menjadi ruang pertemuan para alumni, penyair, pegiat literasi, budayawan, dan pelaku industri kreatif.
Acara dipandu penyair Aam Kamil. Selain menjadi pembawa acara, Aam juga membuka rangkaian kegiatan dengan membacakan puisi.
Aam Kamil diketahui baru menerbitkan dua buku. Masing-masing merupakan kumpulan puisi berjudul Malaikat Subuh dan kumpulan cerpen Mbah Wali.
Suasana malam di Graha IKABU semakin hangat dengan penampilan musik akustik. Setelah itu, sejumlah sastrawan dan pegiat literasi bergantian membacakan karya mereka.
Di antaranya sastrawan F. Aziz Manna, pegiat literasi Sastra Rialita, dan M. Zaim Affan.
Selain menjadi ajang apresiasi sastra, Tadarus Puisi tersebut juga menjadi ruang silaturahmi bagi kalangan pesantren dan pegiat kebudayaan. Sejumlah karya yang dibacakan membawa tema tentang santri, pesantren, spiritualitas, hingga perjalanan kebudayaan.
Budayawan Lukni Maulana turut tampil dalam kegiatan tersebut. Lukni merupakan mantan Ketua Lesbumi PWNU Jawa Tengah.
Sebelum membacakan puisi, Lukni menyampaikan pandangannya mengenai arti keberhasilan seorang santri. Menurutnya, keberhasilan tidak selalu harus diukur dari pencapaian pribadi.
Salah satu bentuk keberhasilan seorang santri, kata dia, adalah ketika adik atau saudara mereka kemudian mengikuti jejak untuk belajar di pondok pesantren.
“Ini namanya kaderisasi,” ujar Lukni.
Lukni kemudian membacakan puisi berjudul Ikut Aku, Maka Engkau Santriku. Puisi tersebut merupakan bagian dari buku Setengah Tiang: Antologi Puisi Tiga Penyair.
Buku itu baru saja diluncurkan Lukni bersama dua penyair lainnya, yakni Beno Siang Pamungkas dan Slamet Priyatin.
Dalam puisinya, Lukni menggambarkan sosok santri sebagai penjaga nilai keimanan sekaligus penerus perjuangan para ulama.
“santri
itulah engkau hari ini
penjaga iman, penafsir kemerdekaan
pewaris jejak Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.”

Ngaji Event Bersama Promotor Musik
Rangkaian kegiatan IKABU kemudian berlanjut dengan Ngaji Event bersama Anas Syahrul Alimi. Sesi tersebut dipandu Mohammad Kudlori.
Anas dikenal sebagai promotor musik sekaligus pengusaha. Ia merupakan pendiri Prambanan Jazz Festival, JogjaROCKarta, dan MocoSik Festival.
Dalam kesempatan itu, Anas membagikan pengalaman panjangnya dalam mengelola berbagai event, termasuk Prambanan Jazz Festival yang telah berjalan selama 12 tahun.
Menurut Anas, menyelenggarakan sebuah event bukan perkara mudah. Ada proses panjang yang harus dilalui, termasuk menghadapi tantangan dan risiko yang muncul selama persiapan maupun pelaksanaan kegiatan.
Ia mengatakan pengalaman sebagai santri turut memengaruhi cara pandangnya dalam menjalankan pekerjaan.
Bagi Anas, ikhtiar dan proses tetap harus dilakukan secara maksimal. Setelah itu, seorang manusia harus berserah diri kepada Allah.
“Namun sebagai santri ia percaya akan diberikan kemudahan. Ketika sudah berproses tinggal berpasrah diri kepada Allah,” terangnya.
Menariknya, nilai-nilai yang diperoleh Anas dari lingkungan pesantren juga diterapkan dalam penyelenggaraan konser musik.
Salah satunya dengan menyediakan musala di lokasi konser. Penyelenggara juga tidak menyediakan alkohol dalam konser musik yang dipromotorinya.
Bahkan, ketika azan berkumandang, pertunjukan musik dihentikan. Dengan demikian, para pengunjung maupun pekerja yang hendak menjalankan ibadah tetap memiliki kesempatan untuk melaksanakan salat.
Anas merupakan pendiri Rajawali Indonesia Communication. Perusahaan tersebut menjadi salah satu bagian dari kiprahnya sebagai promotor konser musik, termasuk membawa sejumlah musisi internasional ke Indonesia.
Beberapa musisi yang pernah dipromotori di antaranya Kenny G, Dream Theater, dan Deep Purple.
Nama Rajawali yang digunakan dalam perusahaan tersebut juga memiliki latar belakang spiritual. Anas mengaitkannya dengan ajaran tasawuf yang terdapat dalam kitab Sirr Al-Asrar karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
Setelah sesi Ngaji Event, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh penyair nasional dan penulis antologi puisi Panen, Beno Siang Pamungkas.
Sebelum membacakan puisi, Beno menyampaikan apresiasi terhadap kiprah Anas Syahrul Alimi dalam mengembangkan industri event di Indonesia.
Beno bahkan berharap pengalaman Anas sebagai event organizer (EO) dapat turut berkontribusi dalam penyelenggaraan event besar NU.
Ia menyebut Anas memiliki pengalaman panjang dalam mengelola acara berskala besar sehingga potensial untuk ikut menangani event seperti Muktamar NU.
Beno juga memberikan apresiasi terhadap program baru yang dikembangkan Anas, yakni Madrasah Event.
Program tersebut dinilai memiliki gagasan menarik karena berupaya mendorong pesantren menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan yang lebih kreatif dan menarik.
Menurut Beno, pesantren sebenarnya memiliki banyak kegiatan yang bisa dikembangkan menjadi event. Kekayaan aktivitas pesantren tersebut dapat menjadi modal untuk menghadirkan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas.
“Bagaimana menjadikan pesantren menjadi tempat kegiatan yang paling menarik, sebab pesantren itu banyak kegiatan acara,” ujar Beno.
IKABU Warnai Muktamar ke-35 NU di Tambakberas
Rangkaian kegiatan yang digelar IKABU menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Tidak hanya menghadirkan ruang silaturahmi bagi alumni, kegiatan tersebut juga mempertemukan dunia pesantren dengan sastra, musik, kebudayaan, dan industri kreatif.
Melalui Tadarus Puisi dan Ngaji Event, IKABU menunjukkan bahwa tradisi pesantren dapat berjalan berdampingan dengan perkembangan kreativitas dan kebudayaan.
Bagi keluarga besar Bahrul Ulum Tambakberas, momentum Muktamar ke-35 NU sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan para alumni dari berbagai latar belakang.
Mulai dari penyair, budayawan, pegiat literasi hingga pelaku industri event, semuanya bertemu dalam satu ruang di Graha IKABU.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kiprah alumni pesantren tidak berhenti pada ruang pendidikan dan keagamaan. Nilai-nilai kesantrian dapat dibawa dan dikembangkan dalam berbagai bidang, termasuk seni, budaya, literasi, serta industri kreatif.
Di tengah rangkaian Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, kegiatan IKABU pun menjadi salah satu bentuk partisipasi alumni dalam menyemarakkan perhelatan besar Nahdlatul Ulama di Jombang. []