Keutamaan ilmu menurut Al-Hujwiri terletak pada hubungan antara pengetahuan, amal, dan usaha manusia mengenal Tuhan.
SULUH.OR.ID – Keutamaan ilmu dalam pandangan Abu Hasan Ali bin Utsman al-Hujwiri al-Ghaznawi atau yang dikenal sebagai Al-Hujwiri, tidak berhenti pada banyaknya pengetahuan yang seseorang kuasai. Dalam kitab Kasyful Mahjub, ilmu harus mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Tuhan dan kebenaran.
Al-Hujwiri menempatkan ilmu sebagai jalan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Ia juga menegaskan bahwa ilmu tidak dapat dipisahkan dari amal dan tanggung jawab manusia.
Pandangan tersebut membuat pembahasan ilmu menjadi lebih luas daripada sekadar kegiatan belajar. Ilmu harus membentuk kesadaran, memperbaiki tindakan, dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah.
Dalam kitab karya beliau yakni Kasyful Mahjub menjadi dasar menempatkan pembahasan ilmu sebagai bagian penting dalam perjalanan spiritual. Ia menghubungkan ilmu dengan syariat, makrifat, amal, dan pengenalan terhadap Tuhan.
Ilmu Mengantarkan Manusia kepada Rasa Takut kepada Allah
Al-Hujwiri mengawali pembahasannya dengan hubungan antara ilmu dan rasa takut kepada Allah. Ia mengutip firman Allah tentang para ulama yang memiliki rasa khasyah kepada-Nya.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Artinya: “Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.”
Ayat tersebut terdapat dalam QS Fathir [35]: 28 dan menempatkan ilmu dalam hubungan erat dengan khasyah.
Baginya, ilmu seharusnya melahirkan kesadaran tentang kebesaran dan pengawasan Allah. Karena itu, semakin seseorang memahami Tuhan, semakin besar pula kesadarannya terhadap tanggung jawab spiritual.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa ilmu memiliki dimensi moral yang sangat kuat. Orang berilmu tidak sekadar mengetahui sesuatu, tetapi juga menyadari konsekuensi dari pengetahuannya.
Tafsir Ibn Kathir juga menjelaskan hubungan pengetahuan dengan khasyah dalam ayat tersebut. Semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang Allah, semakin besar pula rasa takut dan pengagungannya kepada-Nya.
Dengan demikian, keutamaan ilmu tidak hanya terletak pada kemampuan menjawab pertanyaan. Ilmu memiliki nilai ketika pengetahuan tersebut mengubah cara manusia memandang Tuhan dan menjalani kehidupan.
Mencari Ilmu Menjadi Jalan Penting bagi Seorang Muslim
Al-Hujwiri menjelaskan bahwa mencari ilmu memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Menurut kitab Kasyful Mahjub menyebutkan hadis tentang kewajiban mencari ilmu bagi Muslim.
Hadis yang masyhur berbunyi:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: “Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap Muslim.”
Al-Hujwiri kemudian menetapkan batasan penting mengenai ilmu yang wajib dipelajari. Seseorang tidak perlu menguasai seluruh cabang ilmu, tetapi harus mempelajari ilmu yang ia perlukan untuk menjalankan kewajibannya.
Ia memberi contoh ilmu perbintangan untuk mengetahui waktu ibadah tertentu. Ia juga menyebut ilmu kedokteran untuk menjaga kesehatan dan ilmu hitung untuk memahami pembagian warisan serta masa idah.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa Al-Hujwiri tidak memahami ilmu secara sempit. Ia mengakui berbagai ilmu selama ilmu tersebut membantu manusia menjalankan kehidupan secara benar.
Ilmu Harus Menghasilkan Amal
Salah satu gagasan paling penting dalam kitab Kasyful Mahjub ialah hubungan antara ilmu dan amal. Al-Hujwiri menolak pemisahan mutlak antara pengetahuan yang hanya tersimpan dalam pikiran dan tindakan yang berjalan tanpa pengetahuan.
Ia menjelaskan bahwa sebagian orang menganggap ilmu lebih utama daripada amal. Sebagian lainnya justru menempatkan amal di atas ilmu, tetapi menurut Al-Hujwiri kedua sikap tersebut memiliki kekeliruan.
Al-Hujwiri memberikan contoh melalui ibadah shalat. Seseorang membutuhkan pengetahuan tentang bersuci, kiblat, dan niat agar ibadah tersebut berjalan sesuai prinsip syariat.
Karena itu, ilmu menjadi dasar bagi amal yang benar. Sebaliknya, amal memberikan bukti bahwa ilmu benar-benar menghasilkan perubahan dalam kehidupan seseorang.
Al-Hujwiri juga mengkritik orang yang mencari ilmu demi nama dan kedudukan. Ia menyebut pencarian ilmu yang tidak menghasilkan praktik sebagai bentuk kegagalan memahami hakikat ilmu.
Pada sisi lain, ia juga mengkritik orang yang menganggap praktik sudah cukup tanpa pengetahuan. Menurutnya, tindakan tanpa ilmu dapat membuat seseorang berputar tanpa arah seperti gambaran keledai yang terus menggerakkan jentera.
Gambaran tersebut memberikan pesan yang kuat tentang pentingnya ilmu dan amal. Pengetahuan memberi arah kepada tindakan, sedangkan tindakan membuktikan manfaat pengetahuan.
Ilmu Bukan Sarana Mengejar Kekuasaan
Al-Hujwiri juga memberikan kritik terhadap pencari ilmu yang mengejar kekuasaan, kehormatan, atau kekayaan. Menurutnya, tujuan seperti itu tidak mencerminkan kedudukan seorang ulama.
Ilmu seharusnya membentuk kerendahan hati dan tanggung jawab. Semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar pula kesadarannya tentang keterbatasan dirinya.
Al-Hujwiri bahkan mengutip perkataan Anas bin Malik:
العاقل يطمع في العلم، والجاهل يطمع في الكلام
Artinya: “Orang yang bijak bercita-cita memperoleh pengetahuan, sedangkan orang bodoh bercita-cita untuk berbicara.”
Ungkapan tersebut menempatkan pencarian pengetahuan di atas keinginan untuk sekadar tampil sebagai orang yang mengetahui.
Kritik tersebut relevan dengan persoalan pencitraan intelektual. Seseorang dapat memiliki banyak pembicaraan tentang agama tanpa menjadikan pengetahuannya sebagai pedoman kehidupan.
Karena itu, Al-Hujwiri menghubungkan kualitas ilmu dengan tujuan pencariannya. Menurutnya, ketika seseorang mencari ilmu untuk memperoleh kekuasaan dan kehormatan, ia telah kehilangan arah spiritual dalam menuntut ilmu.
Dua Macam Pengetahuan dalam Kasyful Mahjub
Al-Hujwiri membagi pengetahuan menjadi dua macam. Pertama ialah pengetahuan ketuhanan, sedangkan kedua ialah pengetahuan kemanusiaan.
Pengetahuan Tuhan bersifat sempurna karena berkaitan dengan Tuhan Yang Maha Mengetahui. Pengetahuan manusia memiliki keterbatasan karena kemampuan manusia sendiri juga terbatas.
Al-Hujwiri kemudian memberikan definisi menarik tentang ilmu. Ia menyebut ilmu sebagai kualitas yang membuat orang bodoh menjadi bijaksana.
Definisi tersebut memperlihatkan bahwa ilmu memiliki fungsi transformasi. Ilmu tidak sekadar menambah informasi, tetapi mengubah kualitas manusia yang mempelajarinya.
Dalam konteks spiritual, ilmu juga mengajarkan manusia untuk menyadari pengawasan Tuhan. Seorang penuntut ilmu harus mengingat Allah dalam setiap tindakan yang dilakukannya.
Kesadaran tersebut membuat ilmu memiliki hubungan langsung dengan akhlak. Pengetahuan yang benar semestinya mendorong seseorang menghindari tindakan yang bertentangan dengan nilai agama.
Kisah Tukang Kebun dan Pintu yang Tidak Dapat Ditutup
Al-Hujwiri menyampaikan kisahdalam kitab Kasyful Mahjub tentang seorang tokoh terkemuka di Bashrah. Tokoh tersebut tergoda oleh kecantikan istri tukang kebunnya ketika mengunjungi kebunnya.
Ia kemudian mengirim tukang kebun tersebut pergi dengan alasan tertentu. Setelah itu, ia meminta perempuan tersebut menutup semua pintu.
Perempuan itu menjawab bahwa ia telah menutup seluruh pintu kecuali satu. Ketika tokoh tersebut menanyakan pintu itu, perempuan tersebut menjawab, “Pintu itu memisahkan aku dari Tuhan.”
Jawaban tersebut menyadarkan tokoh tersebut tentang pengawasan Allah. Ia kemudian bertobat dan meminta maaf atas keinginannya.
Kisah tersebut memperlihatkan fungsi ilmu yang sangat praktis. Pengetahuan tentang pengawasan Allah dapat menjadi kekuatan moral ketika seseorang menghadapi godaan.
Empat Pengetahuan yang Dipilih Hatim Al-Asham
Al-Hujwiri juga mengutip Hatim Al-Asham yang memilih empat pengetahuan untuk menjadi pegangan hidup. Empat pengetahuan tersebut berkaitan dengan rezeki, kewajiban kepada Tuhan, kematian, dan pengawasan Allah.
Pertama, Hatim mengetahui bahwa rezekinya telah ditetapkan. Karena itu, ia tidak menjadikan kecemasan terhadap rezeki sebagai alasan untuk terus mengejarnya tanpa batas.
Kedua, ia menyadari bahwa ia berutang kepada Allah dan memahami bahwa ia sendiri harus menunaikan tanggung jawab tersebut.
Ketiga, ia mengetahui bahwa kematian terus memburunya. Karena itu, ia memilih mempersiapkan diri untuk menghadapi perjumpaan tersebut.
Keempat, ia mengetahui bahwa Allah selalu melihat dirinya. Kesadaran tersebut membuatnya merasa malu melakukan sesuatu yang tidak semestinya dilakukan.
Empat pengetahuan tersebut menunjukkan bentuk ilmu yang sangat aplikatif. Pengetahuan menjadi bernilai ketika seseorang menerjemahkannya menjadi sikap hidup.
Sasaran Ilmu Adalah Mengenal Tuhan dan Perintah-Nya
Menurut Al-Hujwiri, sasaran utama pengetahuan manusia harus mengarah kepada pengenalan terhadap Tuhan dan perintah-Nya. Ia menggunakan istilah ‘ilm-i waqt untuk menjelaskan pengetahuan tentang keadaan lahir dan batin.
Pengetahuan tersebut mencakup keadaan manusia dalam berbagai waktu. Manusia perlu memahami kewajiban lahir sekaligus kondisi batin yang menyertai pelaksanaan kewajiban tersebut.
Al-Hujwiri membagi aspek tersebut menjadi bagian utama dan pelengkap. Aspek lahir utama berkaitan dengan pengakuan iman, sedangkan aspek batinnya berkaitan dengan pencapaian pemahaman sejati.
Bagian lahir pelengkap berkaitan dengan ibadah. Bagian batinnya berkaitan dengan ketulusan niat dalam menjalankan ibadah tersebut.
Karena itu, Al-Hujwiri menolak pemisahan antara dimensi lahir dan batin. Ia menilai formalitas tanpa kedalaman batin memiliki cacat, sedangkan kerohanian tanpa syariat juga kehilangan arah.
Pandangan tersebut memperlihatkan karakter khas pembahasan tasawuf Al-Hujwiri. Ia tidak menempatkan pengalaman spiritual sebagai pengganti syariat, tetapi menghubungkan keduanya dalam kehidupan seorang Muslim.
Tiga Pilar Pengetahuan tentang Kebenaran
Al-Hujwiri menyebut bahwa pengetahuan tentang Kebenaran atau Haqiqat memiliki tiga tiang. Tiga tiang tersebut mencakup pengetahuan tentang Zat Tuhan, sifat-sifat Tuhan, serta tindakan dan kebijaksanaan Tuhan.
Pengetahuan tentang Zat Tuhan berkaitan dengan pengakuan terhadap keesaan dan ketakterbatasan-Nya. Al-Hujwiri juga menegaskan bahwa tidak ada makhluk yang menyerupai Tuhan.
Pengetahuan tentang sifat Tuhan mencakup pemahaman mengenai sifat-sifat seperti Pengetahuan, Kekuatan, Hidup, Kehendak, Mendengar, Melihat, dan Berfirman. Pengetahuan tersebut mengarahkan manusia untuk memahami kesempurnaan Tuhan sesuai kerangka teologis yang dijelaskan Al-Hujwiri.
Sementara itu, pengetahuan tentang tindakan Tuhan berkaitan dengan penciptaan dan pengaturan alam semesta. Al-Hujwiri menghubungkannya dengan keyakinan bahwa Tuhan menciptakan manusia beserta tindakan mereka.
Tiga aspek tersebut menunjukkan luasnya konsep ilmu dalam Kasyful Mahjub. Ilmu tidak hanya membahas hukum lahir, tetapi juga membangun pandangan menyeluruh tentang hubungan manusia dengan Tuhan.
Tiga Pilar Pengetahuan Syariat
Al-Hujwiri kemudian menjelaskan bahwa pengetahuan tentang syariat memiliki tiga tiang. Tiga tiang tersebut ialah Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’.
Al-Qur’an menjadi sumber utama petunjuk bagi kehidupan seorang Muslim. Sunnah menjelaskan dan memperagakan bagaimana ajaran tersebut diterapkan dalam kehidupan.
Ijma’ kemudian menjadi salah satu dasar yang disebut Al-Hujwiri dalam struktur pengetahuan syariat. Ketiga unsur tersebut memperlihatkan bahwa pencarian ilmu membutuhkan sumber dan kerangka yang jelas.
Al-Hujwiri juga menegaskan kenabian Muhammad ﷺ dalam pembahasan pengetahuan syariat. Ia menjelaskan bahwa apa yang disampaikan Nabi mengenai perkara gaib dan perkara nyata merupakan kebenaran menurut kerangka keimanannya.
Dengan demikian, ilmu syariat tidak berdiri tanpa landasan. Penuntut ilmu perlu menghubungkan proses belajar dengan sumber ajaran yang menjadi dasar agama.
Ilmu yang Bermanfaat dan Bahaya Ilmu yang Tidak Diamalkan
Al-Hujwiri mengingatkan bahaya ilmu yang tidak memberikan manfaat. Ia juga mengutip doa Nabi agar manusia berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Doa Nabi tersebut memiliki redaksi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
Artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
Peringatan tersebut menunjukkan bahwa banyaknya pengetahuan tidak otomatis menunjukkan kualitas seseorang. Ilmu harus memberikan manfaat bagi hati, perilaku, ibadah, dan kehidupan sosial.
Nabi ﷺ juga bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya, “Siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.”
Hadis tersebut diriwayatkan Muslim melalui Abu Hurairah dan menjadi salah satu dalil utama tentang keutamaan mencari ilmu.
Hadis tersebut menggambarkan pencarian ilmu sebagai perjalanan. Perjalanan itu tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga kesungguhan, kesabaran, dan orientasi kepada kebaikan.
Ilmu Adalah Kehidupan bagi Hati
Muhammad bin Fadhl Al-Balkhi menjelaskan tiga macam pengetahuan dalam kutipan yang dibawa Al-Hujwiri. Ia menyebut pengetahuan dari Tuhan, dengan Tuhan, dan tentang Tuhan.
Pengetahuan tentang Tuhan berkaitan dengan makrifat. Pengetahuan dari Tuhan berkaitan dengan syariat yang Dia perintahkan, sedangkan pengetahuan dengan Tuhan berkaitan dengan maqam dan perjalanan para wali.
Al-Hujwiri kemudian mengutip Abu Ali Tsaqafi:
الْعِلْمُ حَيَاةُ الْقَلْبِ مِنَ الْجَهْلِ وَنُورُ الْعَيْنِ مِنَ الظُّلْمَةِ
Artinya, “Ilmu adalah kehidupan hati dari kebodohan dan cahaya mata dari kegelapan.”
Ungkapan tersebut menegaskan fungsi ilmu sebagai penerang kehidupan batin.
Konsep tersebut juga menjelaskan mengapa ilmu memiliki posisi penting dalam tradisi tasawuf. Ilmu membantu manusia keluar dari kebodohan dan mengenali arah kehidupan spiritualnya.
Namun, Al-Hujwiri kembali menegaskan bahwa ilmu tidak cukup tanpa amal. Ia mengutip Abu Bakr Warraq yang memperingatkan bahaya puas dengan perdebatan ilmu tanpa menjalankan kezuhudan dan pengendalian diri.
Ilmu dan Amal Harus Berjalan Bersama
Al-Hujwiri menggambarkan hubungan ilmu dan amal sebagai hubungan yang saling melengkapi. Orang yang hanya berbicara tentang ilmu tanpa mengamalkannya belum mencapai tujuan ilmu tersebut.
Sebaliknya, orang yang melakukan banyak tindakan tanpa pengetahuan dapat kehilangan arah. Karena itu, ilmu memberi petunjuk kepada amal, sedangkan amal menunjukkan kesungguhan seseorang dalam menerima ilmu.
Pandangan tersebut menjadi salah satu inti pembahasan Al-Hujwiri. Keutamaan ilmu tampak ketika ilmu mampu membentuk kehidupan yang lebih benar.
Keterangan dalam Kasyful Mahjub juga mengkritik ulama yang mengejar keuntungan duniawi. Al-Hujwiri mengingatkan bahwa pengetahuan dapat menjadi sumber kesesatan ketika manusia menggunakannya demi kepentingan yang salah.
Karena itu, pencari ilmu membutuhkan keikhlasan. Ia juga membutuhkan guru, latihan, pengendalian diri, dan kesediaan mengoreksi dirinya sendiri.
Abu Yazid dan Beratnya Jalan Pengetahuan
Al-Hujwiri mengutip Abu Yazid Bisthami yang menggambarkan beratnya perjuangan mencari ilmu. Abu Yazid menyatakan bahwa setelah bertahun-tahun menjalani perjuangan spiritual, menuntut ilmu tetap menjadi salah satu perkara tersulit baginya.
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa mencari ilmu membutuhkan perjuangan yang panjang. Manusia harus melawan kemalasan, kesombongan, dan kecenderungan merasa sudah mengetahui segala sesuatu.
Al-Hujwiri kemudian mengarahkan pembaca kepada kesadaran tentang keterbatasan pengetahuan manusia. Kesempurnaan pengetahuan manusia justru tampak ketika manusia menyadari keterbatasannya di hadapan pengetahuan Tuhan.
Kesadaran tersebut bukan alasan untuk berhenti belajar. Kesadaran tersebut justru mendorong manusia terus mencari ilmu dengan rendah hati.
Syair tentang Batas Pengetahuan Manusia
Al-Hujwiri menutup pembahasan tersebut dengan sebuah syair yang menggambarkan keterbatasan manusia dalam memahami hakikat. Syair itu menjadi penegasan bahwa pengetahuan manusia memiliki batas.
العَجْزُ عَنْ دَرْكِ الإِدْرَاكِ إِدْرَاكُ
Artinya, “Ketidakmampuan mencapai hakikat pemahaman merupakan sebuah pemahaman.”
Ungkapan tersebut mengajarkan manusia untuk mengenali batas kemampuan intelektualnya.
Al-Hujwiri juga menyebut baris berikutnya:
وَالْوَقْفُ فِي طُرُقِ الْأَخْيَارِ إِشْرَاكُ
Artinya, “Berhenti di jalan orang-orang baik merupakan kesyirikan.”
Dalam kitab Kasyful Mahjub, syair tersebut muncul setelah pembahasan tentang keterbatasan pengetahuan manusia.
Pesan utamanya tberkaitan dengan kerendahan hati intelektual. Manusia perlu belajar secara sungguh-sungguh sambil menyadari bahwa pengetahuan manusia tidak pernah menyamai pengetahuan Tuhan.
Keutamaan Ilmu Terletak pada Perubahan Diri
Dari keseluruhan pembahasan tersebut, Al-Hujwiri tidak mengukur ilmu hanya berdasarkan banyaknya informasi. Ia menghubungkan ilmu dengan iman, amal, syariat, makrifat, akhlak, dan kesadaran terhadap Tuhan.
Ilmu yang benar mengarahkan manusia untuk mengenal Tuhan. Ilmu juga membimbing manusia memahami perintah-Nya dan menjalankan kehidupan dengan kesadaran terhadap pengawasan-Nya.
Karena itu, keutamaan ilmu menurut Al-Hujwiri memiliki dimensi lahir dan batin. Ilmu membantu manusia memahami kewajiban sekaligus membentuk niat dan kesadaran dalam menjalankannya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an tentang hubungan ilmu dan khasyah. Al-Qur’an menyebut orang berilmu sebagai mereka yang memiliki rasa takut kepada Allah.
Hadis Nabi juga memberikan gambaran bahwa perjalanan mencari ilmu dapat menjadi jalan menuju surga. Rasulullah ﷺ menghubungkan pencarian ilmu dengan kemudahan menuju salah satu jalan keselamatan tersebut.
Dengan demikian, mencari ilmu bukan sekadar aktivitas akademik. Dalam perspektif Kasyful Mahjub, mencari ilmu merupakan perjalanan untuk memperbaiki diri dan mengenal kebenaran.
Ilmu yang Membawa Manusia Mengenal Tuhan
Pada puncaknya, Al-Hujwiri menempatkan pengenalan terhadap Tuhan sebagai tujuan tertinggi pengetahuan manusia. Ia menyatakan bahwa tanpa pengetahuan, manusia tidak dapat mengenal Tuhan.
Pernyataan tersebut memberi arah bagi seluruh proses belajar. Pengetahuan tidak seharusnya berhenti pada kemampuan berbicara, menulis, atau memenangkan perdebatan.
Ilmu harus membawa manusia kepada kesadaran tentang siapa dirinya. Ilmu juga harus membuat manusia memahami kedudukannya sebagai makhluk yang terbatas di hadapan Tuhan Yang Maha Mengetahui.
Itulah sebabnya Al-Hujwiri menekankan keseimbangan antara ilmu dan amal. Ia tidak memisahkan pengetahuan dari praktik, syariat dari batin, ataupun belajar dari pembentukan akhlak.
Dalam kerangka tersebut, keutamaan ilmu bukan terletak pada gelar atau pengakuan manusia. Keutamaan ilmu terletak pada kemampuannya menerangi hati, membimbing amal, dan mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Tuhan.
Pembacaan terhadap Kasyful Mahjub akhirnya membawa satu pesan penting. Semakin seseorang belajar, semakin ia perlu menyadari keterbatasan dirinya dan semakin serius mengamalkan kebenaran.
Ilmu yang demikian tidak hanya membuat manusia mengetahui lebih banyak. Ilmu tersebut membentuk manusia agar hidup lebih sadar, lebih bertanggung jawab, dan lebih dekat kepada tujuan spiritualnya. []












